Halaman

Jumat, 19 April 2013

Makalah Konsep Dasar IPS "Sejarah Perkembangan IPS"



MAKALAH
MODUL 2
“ SEJARAH PERKEMBANGAN IPS”

Ditulis dan disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah         : Konsep Dasar IPS
Dosen Pengampu : Rosikin, M.Pd





Disusun Oleh :
-       NURFAIZAH SEPTIYANI        : 822309395




PROGRAM S1 PGSD UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ PURWOKERTO
POKJAR LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL
DI SITANGGAL
TAHUN REG 2011.1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,atas berkat rahmat dan karunia – Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Adapun judul makalah yang penulis susun yaitu “SEJARAH PERKEMBANGAN IPS”. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada bapak Rosikin, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyusun makalah ini, tidak lupa kepada rekan – rekan mahasiswa semester 2 UT POKJAR Lebaksiu UPBJJ Puewokerto dan kepada semua pihak yang telah membantu baik dari segi moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin.



Brebes,     April 2011

                       Penulis


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………..….i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..iii
BAB I               PENDAHULUAN ………………………………………………………1
A.    Latar Belakang …………………………………………………….1
B.    Rumusan Masalah ……………………………..…………………1
C.   Tujuan .……………………………………………………………. 1
D.   Manfaat …………………………………………………………….1

BAB II              PEMBAHASAN ( Modul 2.Sejarah Perkembangan IPS )….……...2
A.    Sejarah Perkembangan IPS secara Umum……………………. 2
B.    Sejarah Perkembangan IPS di Indonesia ……………………... 4

BAB III             PENUTUP……………………………….............……………………. 8
A.    Kesimpulan ………………………..……………………………… 8
B.    Saran..…………………….……………………………….………. 8
Daftar Pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar dan agar mahasiswa dapat memperoleh pemahaman mengenai sejarah perkembangan sejarah IPS secara umum dan perkembangan sejarah IPS di Indonesia.

B.    RUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang kita bahas adalah mengenai bagaimana sejarah perkembangan sejarah IPS secara umum dan bagaimana perkembangan sejarah IPS di Indonesia.

C.   TUJUAN
-        Memenuhi tugas mata kuliah bahasa Indonesia
-        Meningkatkan kemampuan mahasiswa mengenai sejarah perkembangan IPS.

D.   MANFAAT
Setelah membaca makalah ini di harapkan para mahasiswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan sejarah perkembangan IPS.
Secara khhusus mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk;
1.      Menjelaskan sejarah perkembangan IPS secara umum
2.      Menjelaskan sejarah perkembangan IPS di Indonesia.



BAB 2
PEMBAHASAN


A.    Sejarah Perkembangan IPS secara Umum

IPS adalah terjemahan dari Social Studies. Social studies adalah ilmu-ilmu social yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan, meliputi aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi antropologi, psikologi, ilmu geografi dan filsafat yang dalam prakteknya dipilih untuk tujuan pembelajaran disekolah dan diperguruan tinggi.
Bila dianalisis dengan cermat, pengertian social studies mengandung hal – hal sebagai berikut.
1.      Social studies merupakan turunan dari ilmu-ilmu social
2.      Disiplin ini dikembangkan untuk memenuhi tujuan pendidikan pada tingkat persekolahan maupun tingkat perguruan tinggi.
3.      Aspek-aspek dari masing-masing disiplin ilmu social itu perlu diseleksi        sesuai dengan tujuan tersebut.
Pada tahun 1940-1960, ditegaskan oleh Barr, dkk. (1977:36), yaitu terjadinya tarik menarik antara dua visi social studies. Di satu pihak, adanya gerakan untk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu social untuk tujuan citizenship education, yang terus bergulir sampai mencapai tahap yang lebih canggih. Dilain pihak, terus bergulirnya gerakan pemisahan berbagai disiplin ilmu social yang cenderung memperlemah konsepsi social studies education.
Dikemukakan bahwa program social studies di sekolah seyogyanya diorganisasikan dalam bentuk pembelajaran ilmu social yang terpisah-pisah, tetapi di orientasikan kepada closed areas atau masalah-masalah yang tabu dalam masyarakat seperti isu tentang sex, patriotisme ras yang biasanya penuh dengan prasangka, ketidaktahuan, mitos dan kontrovensi, untuk diiubah kearah yang bersifat refleksi rasional. Dengan cara itu social studies mulai di arahkan pada upaya guna melatih para siswa untuk dapat mengambil keputusan mengenai masalah-masalah public.
Definisi social studies dan pengidentifikasian: social studies atas tiga tradisi pedagosis di anggap sebagai pilar utama dari social studies pada dasawarsa 1970-an.



4 hal yang tersurat dan tersirat  mengenai definisi social studies,yaitu;
1.    Social studies merupakan suatu system pengetahuan terpadu.
2.    Misi utama social studies adalah pendidikan kewarganegaraan dalam suatu masyarakat yang demokratis.
3.    Sumber utama konten social studies adalah social science dan humanities.
4.    Dalam upaya penyiapan warga yang demokratis terbuka kemungkinan perbedaan dalam orientasi , visi tujuan, dan metode pembelajaran.

Di dalam dokumen (NCSS, 1994:3) di adopsi pengertian social studies sebagai berikut;
Secara esensial terkandung visi,misi dan strategi pendidikan social studies yang mengokohkan kristalisasi pemikiran yang lebih solid dan kohesif. Dalam dua dasawarsa terakhir, 1980 dan 1990-an, pemikiran mengenai studies yang sebelumnya di landa penyakit ketidakmenentuan, ketidakberkeputusan, ketidakbersatuan,ketidakbersatuan dan ketidakmajuan, paling tidak secara konseptual telah dapat diatasi
.
Rambu-rambu yang digariskan NCSS(1994) dalam rangka mewujudkan visi, misi dan strategi baru social studies ;
1.    Program social studies mempunyai tujuan pokok bahwasanya esensi tujuan tersebut lebih diutamakan dalam social studies dari pada dalam bidang lain.
2.    Program social studies dalam dunia pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan pendidikan menengah di tandai oleh keterpaduan.
3.    Program social studies di titik beratkan pada upaya membantu siswa, bahwasanya siswa bukan sebagai penerima pengetahuan yang pasif, tetapi sebagai pembangunpengetahuan dan sikap yang aktif melalui cara pandang secara akademik terhadap realita.
4.    Program social studies mencerminkan hakikat pengetahuan yang semula dilihat secara kotak-kotak, kini harus dilihat secara terpadu yang menuntun perlibatan berbagai disiplin.




B.    Sejarah Perkembangan IPS di Indonesia
 IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial ), pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah.
Dalam laporan seminar tersebut,  muncul 3 istilah  dan digunakan secara bertukar pakai, yaitu ;
1.    Pengetahuan Sosial,
2.    Studi Sosial dan
3.    Ilmu Pengetahuan Sosial.
Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972 – 1973, yakni dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan ( PPSP ) IKIP Bandung. Dalam kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “ Pendidikan Kewarganegaraan Negara / Studi Sosial “ Sebagai mata pelajaran social terpadu.
Sedangkan dalam kurikulum Sekolah Menengah 4 tahun, digunakan istilah ;
1.    Studi Sosial sebagai mata pelajaran inti untuk semua siswa dan sebagai bendera untuk mata pelajaran geografi, sejarah dan ekonomi sebagai mata pelajaran mayor pada jurusan IPS.
2.    Pendidikan Kewargaan Negara sebagai mata pelajaran inti bagi semua jurusan.
3.    Civics dan Hukum sebagai mata pelajaran mayor pada jurusan IPS.
Pada tahap kurikulum PPSP konsep pendidikan IPS diwujudkan dalam 3 bentuk, yakni ;
1.    Pendidikan IPS, terintegrasi dengan nama Pendidikan Kewargaan Negara / Studi Sosial.
2.    Pendidikan IPS terpisah, dimana istilah IPS hanya digunakan sebagai konsep payung untuk mata pelajaran geografi, sejarah, dan ekonomi.
3.    Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus.
Konsep pendidikan IPS tersebut lalu memberi inspirasi terhadap Kurikulum 1975, yang menampilkan empat profil yaitu;
1.    Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Kewargaan Negara sebagai bentuk pendidikan IPS.
2.    Pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah Dasar.
3.    Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SNIP yang menempatkan IPS sebagai konsep payung untuk geografi, sejarah dan ekonomi koperasi.
4.    Pendidikan IPS terpisah – pisah yang mencakup mata pelajaran geografi, dan ekonomi untuk SMA atau sejarah dan geografi untuk SPG.
Konsep pendidikan IPS seperti itu tetap dipertahankan dalam kurikulum 1975 khususnya dalam aktualisasi materi, seperti masuknya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ( P4 ) sebagai materi pokok PMP.
Dalam kurikulum 1984, PPKn merupakan mata pelajaran khusus yang wajib diikuti semua siswa di SD,SMP dan SMU. Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam ;
1.    Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I-VI.
2.    Pendidikan IPS terkonfederasi di SLTP yang mencakup geografi, sejarah dan ekonomi koperasi.
3.    Pendidikan IPS terpisah di SMU yang meliputi Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I-II; Ekonomi dan Geografi di kelas I-II; Sejarah budaya di kelas III program IPS.
Dimensi konseptual mengenai pendidikan IPS telah berulang kali di bahas dalam rangkaian pertemuan ilmiah, yakni pertemuan HISPISI pertama di Bandung tahun 1989. Forum Komunikasi Pimpinan HIPS di Yogyakarta tahun 1991, di Padang tahun 1992, di Ujung Pandang tahun 1993, Konvensi Pendidikan kedua di Medan tahun 1992. Salah satu materi yang selalu menjadi agenda pembahasan ialah mengenai  konsep PIPS. Dalam pertemuan Ujung Pandang, M. Numan Soemantri, pakar dan ketua HISPISI menegaskan adanya dua versi PIPS sebagaimana dirumuskan dalam pertemuan di Yogyakarta, yaitu ;
a.    Versi PipS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah.
PIPS adalah penyederhanaan, adaptasi dari disiplin ilmu – ilmu Sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pedagosis/psiko,ogis untuk tujuan pendidikan.

b.    Versi PIPS untuk  Jurusan Pendidikan IPS – IKIP
PIPS adalah seleksi dari disiplin Ilmu –ilmu Sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.


PIPS untuk tingkat perguruan tinggi pendidikan Guru IPS di rekonseptualisasikan sebagai pendidikan disiplin ilmu, sehingga menjadi Pendidikan Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial ( PDIPS ).
Bertitik tolak dari pemikiran mengenai kedudukan konseptual diidentifikasi sekolah objek telaah dari system pendidikan IPS, yaitu;
1.    Karakteristik potensi dan perilakubelajar siswa SD, SLTP dan SMU.
2.    Karakteristik potensi dan perilaku belajar mahasiswa FPIPS – IKIP atau JPIPS – STKIP / FKIP.
3.    Kurikulum dan bahan ajar IPS SD, SLTP dan SMU.
4.    Disiplin ilmu – ilmu social. Humaniora dan disiplin lain yang relevan.
5.    Teori , prinsip, strategi dan media dan evaluasi pembelajaran IPS.
6.    Masalah-masalah social, dan masalah ilmu dan teknologi yang berdampak social.
7.    Norma agama yang melandasi dan memperkuat profesionalisme

PARADIGMA PEMBANGUNAN PENGETAHUAN DALAM BIDANG IPS
Secara operasional paradigm pembangunan pengetahuan dalam bidang PDIPS diartikan sebagai pola pikir, pola sikap dan pola tindak yan tertata secara utuh yang seyogyanya digunakan oleh para pakar atau ilmuan PDIPS dalam melakukan kegiatan “ konstruksi, interpretasi transformasi dan rekonstruksi ( KITR ) “ pengetahuan sampai pada akhirnya ditemukan teori.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara umum perkembangan social studies sebagai suatu bidang kajian telah dibahas. Melukiskan bagainana social studies pada dunia persekolahan telah menjadi dasar ontologi dan suatu system pengetahuan yang terpadu, yang secara estimologi telah mengarungi suatu perjalanan pemikiran dalam kurun waktu 60 tahun lebih yang di motori dan diwadahi oleh NCSS sejak tahun 1935.
Dari penelusuran historis epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi social studies mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketakmenentuan, ketakkeputusan, ketidakbersatuan, dan ketakmajuan.
Di Indonesia Pendidikan IPS dalam dunia persekolahan berkembang juga secara evolusioner sejak tahun1967. Secara konseptual PDIPS merupakan suatu system pengetahuan terpadu atau integrated knowledge system yang bersumber dan bertolak dari ilmu-ilmu social, ilmu pendidikan, ilmu lainnya sebagai extractive knowledge, dan masalah-masalah social sebagai latar operasional.
PDIPS sebagai suatu system pengetahuan terpadu yang perlu dikaji secara terus menerus melalui berbagai upaya penelitian, pengembangan dan penerapan yang melibatkan para pakar dan praktisi dalam bidang PIPSdan PDIPS. Dengan demikian, PDIPS dapat berkembang memenuhi tuntutan sebagai suatu disiplin.

B.    Saran
Demikian makalah yang penulis buat dengan segala kekurangan dan keterbatasan penulis.oleh karena itu, penulis mohon saran dan kritik yang kontruktif demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.


DAFTAR PUSTAKA


Winaputra, HUS. (2000). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Terbuka.

Saripudin, U. W. (1989). Konsep dan Masalah Pengajaran Ilmu Sosial di Sekolah Menengah. Jakarta: Depdikbud, Ditjen Dikti. Proyek Pengembangan LPTK.

Myers, C.B.et.al. (2000). Nasional Standards for Sosial Studies Teacher 1. Washington DC: National Council for The Sosial Studies.

Kamis, 18 April 2013

Resume Perspektif Pendidikan SD

RESUME
MODUL 5
KARAKTERISTIK BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR”
Kegiatan Belajar 1

Ditulis dan disusun guna memenuhi tugas;
Mata Kuliah         : Perspektif Pendidikan SD
Dosen Pengampu  : Drs.Sarjiono, M.Pd







Disusun Oleh :
NURFAIZAH SEPTIYANI
NIM : 822309395


PROGRAM S1 PGSD UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ PURWOKERTO
POKJAR LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL
DI SITANGGAL
TAHUN REG 2011.1

Kegiatan Belajar 1   : Bentuk-bentuk Kegiatan Belajar yang Biasa Dilakukan                                  Siswa Sekolah Dasar

A.    BELAJAR MENEMUKAN

Menurut Jerome S. Bruner menyatakan  bahwa inti belajar adalah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif. Menurut Bruner, selama kegiatan belajar berlangsung hendaknya siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri makna segala sesuatu yang dipelajari ( discovery learning ). Dalam hal ini siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam memecahkan masalah.Dengan cara tersebut di harapkan mereka mampu memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri. Dengan kata lain metode discovery learning mendorong siswa untuk bertanya dan merumuskan jawaban sementara mereka, serta menarik kesimpulan terhadap prinsip umum dari contoh praktik atau pengalaman yang dilakukannya.
Bagus Takwin dalam tulisannya “Belajar Menemukan Kesalahan “ mengatakan bahwa anak dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan- kesalahan dari kejadian sehari-hari dengan menggunakan gambar. Untuk stimulus yang lebih kompleks dapat digunakan rangkaian gambar yang memuat beberapa kesalahan , lalu anak diminta menemukan kesalahan dalam rangkaian gambar tersebut. Contoh: tunjukkan serangkaian gambar yang memuat dua atau lebih anak yang sedang berkelahi, lalu ajukan pertanyaan kepada mereka apa yang salah dari perilaku anak-anak dalam rangkaian gambar itu. Jawaban-jawaban anak dapat menjadi bahan diskusi yang dapat merangsang anak untuk berpikir kritis.
Selain itu guru juga dapat menerapkan metode percobaan ( Experimental method ), yaitu metode pengajaran yang mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Terdapat tiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi ,yaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya, mengajak anak ke kebun pisang untuk menjelaskan tentang pisang. Dengan belajar dari alam, anak dapat mengamati sesuatu secara konkret.

B.    BELAJAR MENYIMAK

Contoh kegiatan belajar menyimak siswa adalah sebagai berikut;
1.    Bermain dengan kata seperti bercerita, membaca serta menulis. Hal ini dapat membantu siswa mengingat nama, tempat, tanggal dan hal-hal lain dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
2.    Bermain dengan pertanyaan  dengan cara guru memancing keingintahuan dengan berbagai pertanyaan.
3.    Bermain dengan gambar.
4.    Bermain dengan music.

C.   BELAJAR MENIRU
Anak akan banyak sekali belajar melalui melihat, mengamati, menginternalisasi hingga meniru dalam bentuk perilaku, bahkan hingga perilaku hasil meniru menetap sebagai suatu kebiasaan. Oleh karena itu, guru hendaknya selalu memberi contoh yang baik , sehingga siswa akan berperilaku sesuai dengan apa yang biasa dilihatnya.

D.   BELAJAR MENGHAFAL

Kecenderungan siswa belajar dengan metode menghafal ini disebabkan oleh budaya yang terjadi disekolah, yang pada umumnya didominasi oleh komunikasi satu arah , yaitu guru ke siswa  dan kurang merangsang rasa ingin tahu, prakarsa maupun individualisasi. Siswa menjadi penerima yang pasif. Metode menghafal juga mengandung akibat buruk pada perkembangan mental siswa. Metode menghafal merupakan aktivitas yang tidak terlalu banyak menuntut aktivitas berpikir. Hal ini akan berpola dalam banyak bentuk kebiasaan belajar, sehingga siswa kehilanhan sense of learning atau kepekaan untuk belajar. Oleh karena itu sebagai guru harus dapat membenahi metode belajar siswa dan member bekal keterampilan belajar serta berusaha membiasakan siswa menggunakan metode berpikir logis  dan sistematis.

E.    BELAJAR MERANGKAI

Untuk mengembangkan kemampuan belajar merangkai dapat dilakukan dengan permainan aneka jenis binatang.Melalui permainan ini, siswa yang dibagi ke dalam beberapa kelompok binatang diharuskan untuk membuat karakteristik dari binatang yang menjadi kelompoknya. Kemudian menyuruh siswa untuk merangkai pertanyaan mengenai cirri-cirin yang sudah dibuat oleh teman di kelompok lain. Misalnya;
-          Keluarga kambing
a.    Hidupnya di darat
b.    Makanannya rumput
c.    Kegunaanya; sebagai hewan ternak, bulunya dapat dibuat untuk kerajinan tangan,dapat menjadi hewan kurban
d.    Cirri-cirinya; mempunyai 4 kaki, berbulu lembut,mempunyai kepala , berkembang biak dengan melahirkan, tidak punya cakar.
Setelah itu masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan selama presentasi, kelompok lain boleh bertanya atau menambahkan hal-hal lain tentang binatang yang sedang dipresentasikan.

F.    BELAJAR MENGAMALKAN

Metode belajar mengamalkan erat kaitannya dengan mata pelajaran PPKn dan Agama,karena dengan mata pelajaran tersebut anak diajarkan nilai-nilai moral dan perilaku yang hendaknya ditampilkan pada saat mereka bersosialisasi di masyarakat.

G.   BELAJAR MENGANALISIS
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan kemampuan belajar menganalisis pada siswa SD adalah dengan menggunakan permainan teka-teki atau tebak-tebakan, sehingga anak terbiasa menganalisis suatu permasalahan berdasarkan informasi yang tersedia dan mencari jawabannya.
Manfaat dari permainan teka-teki adalah;
1.    Mengasah daya ingat
2.    Belajar klasifikasi
3.    Mengembangkan kemampuan analisis
4.    Menghibur

H.   BELAJAR MERESPON

Respon merupakan suatu tanggapan yang diberikan oleh seseorang sebagai reaksi dari suatu tertentu. Contoh kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan merespon bagi siswa SD adalah dengan memberikan pertanyaan seputar peristiwa yang terjadi di sekitarnya, misalnya bagaimana respon/tanggapan siswa apabila temannya sedang ditimpa musibah banjir, gempa bumi atau tanah longsor.

I.      BELAJAR MENGORGANISASIKAN

Menurut Carl Rogers yang penting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu;
1.    Manusia memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2.    Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3.    Pengorganisasian bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
Contoh belajar mengorganisasikan mata pelajaran IPS SD, ketika anak diberikan pengetahuan tentang sejarah proklamasi kemerdekaan RI, guru dapat membuat skema sebagai berikut.  






J.    BELAJAR MENGAMBIL KEPUTUSAN

Pada situs http://www.tabloidnova.com , ditampilkan contoh bahwa sebenarnya anak sudah belajar secara alami bagaimana mereka harus menentukan pilihan. Pengembangan kemampuan untuk mengambil keputusan dapat dilakukan dengan metode problem solving atau pemecahan masalah.

K.    BERLATIH

Untuk mengembangkan kemampuan berlatih, guru dapat menggunakan metode bermain peran dengan cara mengajak siswa untuk praktek jual beli diwarung sekolah.

L.    BELAJAR MENGHAYATI
Kemampuan menghayati dapat dikembangkan melalui mata pelajaran kesenian, yaitu dengan cara menghayati suatu peran / tokoh dalam cerita atau menghayati makna yang terkandung pada sebuah lagu.

M.   BELAJAR MENGAMATI
Metode untuk membelajarkan anak tentang kemampuan mengamati dapat dilakukan dengan kegiatan mengajak anak untuk mengenal ekosistem perairan laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.